Rabu, 23 Oktober 2013

Jalan Cinta dan Hidayah (Bab Satu)

Sumatera Utara, Kabupaten Simalungun, Kecamatan Sidamanik, Balimbingan.
Aku dilahirkan disebuah rumah sakit milik BUMN yang bergerak dibidang perkebunan teh, dan ternyata aku dilahirkan tidak sendirian alias kembar. Karena aku yang lahir duluan, maka kelak akulah yang berhak dipanggil abang oleh saudara kembarku. Walaupun dikalangan orang-orang tua Jawa, sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa yang belakangan nongol adalah sang kakak, karena dianggap 'mendorong' adikknya agar nongol duluan. Namun, orang tuaku tetap aja dengan pendapat umum bahwa yang nongol duluan itulah sang kakak. Aku sih setuju dengan mereka, maka jadilah aku abang :).
Dilahirkan dirumah sakit pada jaman aku lahir adalah suatu hal yang amat jarang dirasakan. Bahkan, dari sekian orang adik-adikku yang dilahirkan ibuku, hanya kamilah yang merasakan fasilitas itu. Maklum, jalan cerita kehidupan kedua orang tuaku selanjutnyalah yang membuat kami keluar dari alur awal cerita.
Kalo diitung-itung, maka kami terlahir sebagai anak ketiga dan keempat. Walaupun anak pertama di keluarga kami telah mendahului menemui Sang Penciptanya sebelum kami lahir. So, kami hanya memiliki seorang abang. Usianya ketika kami lahir lebih kurang empat tahun, ketika itu dia adalah seorang anak yang sehat dan menggemaskan bagi kebanyakan orang.
Ayahku adalah seorang petugas keamanan di BUMN yang kusebutkan diatas, sementara ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Karena tidak banyak kejadian yang kuingat ketika kehidupan masa kecilku berlangsung disana. Lalu karena sesuatu hal, akhirnya orang tuaku hijrah ke Kabupaten Langkat, Kecamatan Padang Tualang, Desa Tanjung Putus. Ketika itu aku berumur lebih kurang tiga tahun.

Kabupaten Langkat, Kecamatan Padang Tualang, Desa Tanjung Putus
Ayahku beralih profesi menjadi tukang bangunan, karena mengikuti profesi kakekku dari ibu. Dengan bekal kecerdasan yang diatas rata-rata orang sebayanya, ayahku cepat menguasai pekerjaannya. Sehingga tidak lama bagi beliau untuk mendapat pengakuan di level tukang. Kami jadi sering ditinggal hanya dengan ibu dirumah, karna ayah sering merantau dalam waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tergantung jauh dekatnya lokasi pekerjaannya. Dari masa kecil kami, lalu lahir adik kembar tiga kami, kami masih menumpang gratis di salah satu rumah tetangga kakek yang kosong. Lumayan besar, model panggung depan berlantai papan dengan halaman luas plus kolam yang tak terawat di bagian kiri depan....Tempat masa kecil yang menyenangkan namun dengan kolam yang agak membahayakan aku dan adik-adikku....


Kembaranku kecemplung sumur

Rumah yang kami tinggali lengkap dengan sumur dan kamar mandi diluar ala jaman (baheula) itu. Dinding dari papan dan sumur hanya diamankan dengan pagar keliling membentuk segi empat. Cukup bahaya bagi kucing dan ayam yang lasak, juga untuk anak kecil yang lasak (weleh....buahayya?). Dari kami bertiga, yang mulai beranjak besar. Kembarankulah yang paling lasak.....
Sebagai konsekwensi dari kelasakannya itulah, kembaran adalah satu-satunya anak ortu yang merasakan gimana rasanya kecemplung sumur itu. Gak tau gimana detil cerita penyelamatannya dari dalam sumur, tapi mamak pernah ngomong kalo dia harus nyemplung kesumur juga demi menyelamatkan satu buah hatinya itu. Subhanallah, begitulah kasih seorang ibu......

Jalan Cinta dan Hidayah (Pendahuluan)

Assalamualaikum wr. wb...
Semoga saudara-saudariku se-Iman tetap dalam keadaan sehat walafiat. Bermohon maaf kepada antum semua, karena mungkin ada yang menunggu lanjutan dari Judul-judul sebelumnya (boleh ge-er ya?). Tapi kalau gak yang itu keberuntungan anda :).
Bukan bermaksud menafikan, atau tidak ingin melanjutkan tulisan-tulisan sebelumnya. Hanya saja karena referensi dan waktu yang dituntut belum bisa saya penuhi, maka begitulah keadaannya (pasrah tapi gak rela, ikhtiar lebbih dong ya? mudah-mudahan bukan sekedar alasan). Saya ingin menulis sesuatu yang mungkin bisa membuat saya lebih rileks dan tidak terbebani dengan segala macam referensi, yang membuat saya lebih enjoy dan terinspirasi untuk terus menulis insyaa Allah.
Mungkin ini hanya akan  jadi cerita picisan bagi seorang sastrawan, khayalan bagi seorang idealis, semrawut bagi seorang editor (walau gak akan diedit sama editor) dan cengeng bagi seorang berjiwa tegar. Mungkin juga ada yang beranggapan ini adalah jalan cerita hidup saya, atau seseorang yang amat saya kenal. Bagi saya sah-sah aja, yang penting jangan saya dilaporkan ke Polisi (apa hubungannya? bisa aja kalee).
Yups, sebelum semua berlalu. Mohon maaf apabila nantinya ada sahabat yang merasa terusik atau tersanjung. Petunjuk adalah milik-Nya yang akan diberikan kepada orang yang di kehendaki-Nya.

Selamat Membaca ya?

Wallahu muwafiq ila aqwamit thariq
Assalamualaikum wr. wb...
Ta'dzim Saya
Koes Abi Lana
 
- See more at: http://united-akhied.blogspot.com/2012/11/memasang-burung-twitter-di-blog.html#sthash.tplrg5P4.dpuf