Sumatera Utara, Kabupaten Simalungun, Kecamatan Sidamanik, Balimbingan.
Aku dilahirkan disebuah rumah sakit milik BUMN yang bergerak dibidang perkebunan teh, dan ternyata aku dilahirkan tidak sendirian alias kembar. Karena aku yang lahir duluan, maka kelak akulah yang berhak dipanggil abang oleh saudara kembarku. Walaupun dikalangan orang-orang tua Jawa, sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa yang belakangan nongol adalah sang kakak, karena dianggap 'mendorong' adikknya agar nongol duluan. Namun, orang tuaku tetap aja dengan pendapat umum bahwa yang nongol duluan itulah sang kakak. Aku sih setuju dengan mereka, maka jadilah aku abang :).
Dilahirkan dirumah sakit pada jaman aku lahir adalah suatu hal yang amat jarang dirasakan. Bahkan, dari sekian orang adik-adikku yang dilahirkan ibuku, hanya kamilah yang merasakan fasilitas itu. Maklum, jalan cerita kehidupan kedua orang tuaku selanjutnyalah yang membuat kami keluar dari alur awal cerita.
Kalo diitung-itung, maka kami terlahir sebagai anak ketiga dan keempat. Walaupun anak pertama di keluarga kami telah mendahului menemui Sang Penciptanya sebelum kami lahir. So, kami hanya memiliki seorang abang. Usianya ketika kami lahir lebih kurang empat tahun, ketika itu dia adalah seorang anak yang sehat dan menggemaskan bagi kebanyakan orang.
Ayahku adalah seorang petugas keamanan di BUMN yang kusebutkan diatas, sementara ibuku hanyalah seorang ibu rumah tangga. Karena tidak banyak kejadian yang kuingat ketika kehidupan masa kecilku berlangsung disana. Lalu karena sesuatu hal, akhirnya orang tuaku hijrah ke Kabupaten Langkat, Kecamatan Padang Tualang, Desa Tanjung Putus. Ketika itu aku berumur lebih kurang tiga tahun.
Kabupaten Langkat, Kecamatan Padang Tualang, Desa Tanjung Putus
Ayahku beralih profesi menjadi tukang bangunan, karena mengikuti profesi kakekku dari ibu. Dengan bekal kecerdasan yang diatas rata-rata orang sebayanya, ayahku cepat menguasai pekerjaannya. Sehingga tidak lama bagi beliau untuk mendapat pengakuan di level tukang. Kami jadi sering ditinggal hanya dengan ibu dirumah, karna ayah sering merantau dalam waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tergantung jauh dekatnya lokasi pekerjaannya. Dari masa kecil kami, lalu lahir adik kembar tiga kami, kami masih menumpang gratis di salah satu rumah tetangga kakek yang kosong. Lumayan besar, model panggung depan berlantai papan dengan halaman luas plus kolam yang tak terawat di bagian kiri depan....Tempat masa kecil yang menyenangkan namun dengan kolam yang agak membahayakan aku dan adik-adikku....
Kembaranku kecemplung sumur
Rumah yang kami tinggali lengkap dengan sumur
dan kamar mandi diluar ala jaman (baheula) itu. Dinding dari papan dan
sumur hanya diamankan dengan pagar keliling membentuk segi empat. Cukup
bahaya bagi kucing dan ayam yang lasak, juga untuk anak kecil yang lasak
(weleh....buahayya?). Dari kami bertiga, yang mulai beranjak besar.
Kembarankulah yang paling lasak.....
Sebagai konsekwensi dari
kelasakannya itulah, kembaran adalah satu-satunya anak ortu yang
merasakan gimana rasanya kecemplung sumur itu. Gak tau gimana detil
cerita penyelamatannya dari dalam sumur, tapi mamak pernah ngomong kalo dia harus nyemplung kesumur juga demi menyelamatkan satu buah hatinya itu. Subhanallah, begitulah kasih seorang ibu......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar